
| Beranda |
| Selamat Datang |
| Sejarah PTA Kep. Bangka Belitung |
| Yurisdiksi |
| Struktur Organisasi |
| Visi dan Misi |
| Rencana Strategis |
| Surat Dinas |
| Artikel dan Makalah |
| Peraturan Perundang-Undangan |
| Buku Tamu |
| Link |
| Informasi Perkara PTA dan PA se-Babel |
| Statistik Perkara |
| Prosedur Berperkara |
| Perkara Putusan |
| Bagian Kepaniteraan |
| Bagian Kepegawaian |
| Bagian Keuangan |
| Bagian Umum |
| Pedoman Perilaku Hakim |
| Profil Pegawai |
| Job Description |
| Daftar Pengawasan |
| LHKPN |
| Alur Pengaduan |
| Prosedur Pengaduan |
| Pengaduan Online |
| Hak-Hak Pencari Keadilan |
| Hak-Hak Pelapor |
| Biaya Berperkara |
| Transparansi Anggaran |
| Barang Milik Negara |
| Rencana Umum Pengadaan |
| PA Pangkalpinang |
| PA Sungailiat |
| PA Tanjungpandan |
| PA Muntok |
| Dirjen Badilag Tamu Istimewa CILS Conference di Melbourne |
|
|
|
| Dimuat Oleh Administrator | |
| Senin, 05 Desember 2011 | |
Dirjen Badilag Tamu Istimewa CILS Conference di Melbourne
Dirjen Badilag dan Sespim MA RI, Hasbi Hasan, sedang berbincang dengan Prof. Merle Ricklefs dan Prof Tim Lindsey seusai konferensi.Melbourne | Badilag.net (30/11/2011) Sambutan meriah kepada Dirjen Badilag Wahyu Widiana dari Sydney berlanjut ke Melbourne. Ya, setelah memberikan presentasi kunci (keynote address) dalam dialog para pemikir hukum dan keadilan Australia-Pakistan yang diinisiasi Lowy Institute di Sydney (28/11/11), Dirjen terbang ke Melbourne untuk menghadiri CILS/NCEIS Conference di Melbourne Law School, University of Melbourne Australia, esok harinya. Dirjen Badilag hadir atas undangan Prof. Tim Lindsey, ketua penyelenggara konferensi yang juga Direktur Asian Law Center dan Center for Islamic Law and Society. “Pada hari kedua konferensi ini kita mempunyai tamu istimewa yang baru saja datang dari Sydney. Beliau adalah pak Wahyu Widiana, Dirjen Badilag MA RI,” sambut Tim di hadapan peserta konferensi.
Dirjen Badilag dan Sespim MA RI, Hasbi Hasan, sedang berbincang dengan Prof. Merle Ricklefs dan Prof Tim Lindsey seusai konferensi.“Ooh ini tho yang namanya pak Wahyu. Namanya sudah terkenal ke mana-mana. Kami sudah sangat familiar dengan namanya, tapi baru hari ini bertemu langsung dengan orangnya,” kata seorang peserta konferensi setelah acara penutupan. Sejumlah peserta lainnya mengungkapkan hal senada. Konferensi yang digelar tahunan untuk para mahasiswa doktoral ini dihadiri puluhan peserta yang datang dari berbagai universitas di Australia seperti ANU, UNSW, Usyd, Monash, La Trobe, RMIT, New England, Curtin, Western Sydney, Victoria, Murdoch, Wollongong dan tuan rumah Unimelb. Sejumlah guru besar juga hadir dalam pertemuan dua hari yang tema utamanya berkisar pada pemikiran Islam, hubungan Muslim dan Barat, Islam di Malaysia dan Indonesia, budaya, wanita dan hukum keluarga. Guru besar tersebut di antaranya adalah Virginia Hooker, Merle Ricklefs, Mike Feener, M B Hooker, Greg Fealy, dan Dr. Nadirsyah Hosen, dosen senior Wollongong University, putra pendiri IIQ Jakarta, KH. Ibrahim Hosen. Dalam acara ramah tamah paska konferensi, Dirjen yang datang bersama Dr. Hasbi Hasan, sekretaris pimpinan MA RI, berdialog dengan para peserta dan guru besar. Beliau sharing seputar keberadaan peradilan agama dan perkembangannya sejak berada dibawah Departemen Agama sampai sekarang dalam sistem satu atap dibawah Mahkamah Agung RI. Sejumlah peserta terlihat antusias dan banyak bertanya dalam obrolan yang berakhir pukul 19.30 waktu setempat. Dirjen juga berbincang lumayan panjang dengan Mike Feener, Associate Professor dari NUS (National university of Singapore). Feener adalah kawan dekat Tim Lindsey. Kedua guru besar ini sering bekerja sama dalam berbagai kegiatan dan publikasi ilmiah. Feener juga bersahabat dengan Mark E. Cammack, Law Professor dari Southwestern Law School, Los Angeles, USA. Feener dan Cammark adalah editor buku Islamic Law in Contemporary Indonesia; Ideas and Institutions yang diterbitkan Harvard Law School USA pada tahun 2007 lalu. Buku ini merangkum 12 artikel tentang hukum dan peradilan Islam di Indonesia masa kini. Selain Cammack, sejumlah ilmuan seperti R. Michael Feener, Tim Lindsey, John R. Bowen, M.B. Hooker, Rifyal Ka’bah dan Azyumardi Azra juga menyumbangkan kontribusinya. Ada kesimpulan menarik yang ditulis Cammack di Bab VIII dari buku itu. Dalam artikelnya yang berjudul The Indonesian Islamic Judiciary, Cammack menulis: “While not without weaknesses, Indonesia’s Islamic courts are a relative success story within Indonesia’s otherwise dysfunctional legal system.” Artinya, meski bukannya tanpa kelemahan, pengadilan agama di Indonesia relatif merupakan kisah sukses dalam sistem hukum yang disfungsional. Kesimpulan profesor hukum berkebangsaan Amerika ini kemudian diperkuat oleh dua orang akademisi dan aktivis hukum dari Australia, Prof. Tim Lindsey dan Cate Sumner. Dalam buku Courting Reform: Indonesia's Islamic Courts and Justice for the Poor (2010), keduanya menulis: “...the Religious Court can be seen as one of the most successful of Indonesia’s judicial institutions.” Maksudnya, Peradilan agama dapat dilihat sebagai salah satu lembaga hukum yang paling sukses di Indonesia. Pelihara pencapaian Dimintai tanggapannya setelah menghadiri konferensi dan ramah tamah dengan para guru besar dan mahasiswa doktoral tersebut, Dirjen Badilag mengaku sangat senang atas kunjungannya ke Sydney dan Melbourne ini. “Kemarin di Sydney peradilan agama mendapat sambutan luar biasa meriah. Ini semua karena kerja keras seluruh warga peradilan agama. Saya juga senang bisa berbagi pengalaman dengan negara lain tentang apa yang telah dan sedang dilakukan oleh peradilan agama di Indonesia,” kata Dirjen.
Prof Mike Freener, Dirjen Badilag dan Hasbi Hasan berpose bersama dalam acara ramah tamah.“Hari ini rasa senang saya bertambah bisa hadir di konferensi ini dan bertemu dengan para guru besar dan mahasiswa dari berbagai universitas. Pertemuan-pertemuan seperti ini saya kira penting untuk mendapatkan masukan dan kritik tentang peradilan agama langsung dari para ahli yang concern di bidang itu. Saya senang dan berterima kasih sekali sudah diundang oleh pak Tim. Tadi juga ngobrol dengan Mike Feener, Merle Ricklefs, dan Stewart Fenwick,” ujarnya lagi. Sejauh ini peradilan agama banyak mendapat apresiasi yang sangat bagus tidak hanya dari Australia, tapi juga dari (para ahli) negara-negara lain. Dirjen kemudian menggarisbawahi bahwa tantangan utama warga peradilan agama adalah harus bisa menjaga pencapaian yang sudah didapat dan terus meningkatkannya ke arah yang lebih baik. Lebih dari itu, peradilan agama juga harus bisa membuktikan apakah yang dikatakan para ahli tersebut memang benar terjadi di peradilan agama. Karena kalau tidak, tentunya kita harus malu, kata Dirjen. “Pemanfaatan TI sudah terbukti memberikan sumbangsih signifikan atas kemajuan peradilan agama selama ini. Saya tidak bosan ingin menekankan peran aktif pimpinan peradilan agama untuk terus berbuat lebih baik. Selain itu, integritas dan kapabilitas harus terus ditingkatkan,” tegas Dirjen. “Betul, peran pimpinan sangat vital. Kemarin di Sydney, Cate Sumner bercerita di hadapan peserta pertemuan bahwa salah satu kunci utama reformasi peradilan agama terletak pada strong leadership. Ia bercerita bagaimana egaliternya Pak Dirjen yang selalu turun langsung memonitor kebijakan, penuh dengan ide kreatif dan memberikan role model,” Hasbi Hasan menambahkan. Ketika berita ini ditulis, Dirjen Badilag dan Hasbi Hasan sedang berada di Canberra, bertemu dengan para pejabat penting, mengunjungi Family Court of Australia, High Court of Australia, Attorney-Generals Department, dan beberapa tempat lainnya. Keduanya direncanakan kembali ke Indonesia Jumat sore (2/12/2011). |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 05 Desember 2011 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

| Rakerda Tahun 2012 |