
| Beranda |
| Selamat Datang |
| Sejarah PTA Kep. Bangka Belitung |
| Yurisdiksi |
| Struktur Organisasi |
| Visi dan Misi |
| Rencana Strategis |
| Surat Dinas |
| Artikel dan Makalah |
| Peraturan Perundang-Undangan |
| Buku Tamu |
| Link |
| Informasi Perkara PTA dan PA se-Babel |
| Statistik Perkara |
| Prosedur Berperkara |
| Perkara Putusan |
| Bagian Kepaniteraan |
| Bagian Kesekretariatan |
| Pedoman Perilaku Hakim |
| Profil Pegawai |
| Job Description |
| Alur Pengaduan |
| Prosedur Pengaduan |
| Pengaduan Online |
| Hak-Hak Pencari Keadilan |
| Hak-Hak Para Pihak |
| Transparansi Anggaran |
| Barang Milik Negara |
| PA Pangkalpinang |
| PA Sungailiat |
| PA Tanjungpandan |
| PA Muntok |
| Makna 9 Dzulhijjah |
|
|
|
| Dimuat Oleh Wasisto | |
| Jumat, 05 Desember 2008 | |
|
Melakukan puasa Arafah termasuk empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW. Seperti dalam hadist yang diriwayatkan Hafshah binti Umar bin Khattab Radhiyahullahu Anhuma, ia berkata: Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW, yaitu puasa Asyura, puasa sepuluh hari, puasa tiga hari setiap bulan dan dua rakaat sebelum Subuh.(HR. Ahmad dan An-Nasa’i) Empat hal di atas adalah kebiasaan- kebiasaan yang senantiasa dikerjakan oleh Nabi SAW. Puasa Asyura, yaitu puasa pada tanggal sepuluh bulan Muharram. Puasa sepuluh hari, maksudnya ialah sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, selain hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq. Sedangkan puasa Arafah, ia masuk di dalam yang sepuluh hari ini. Seumur hidup Rasulullah SAW, atau lebih tepatnya ketika Nabi berada di Madinah, beliau hanya sekali saja melaksanakan ibadah haji. Haji itu adalah yang pertama dan terakhir bagi beliau. Karena pada tahun berikutnya, beliau dipanggil Allah ke sisi-Nya atau wafat. Selama Nabi Muhammad SAW berada di Madinah, yakni ketika tidak berangkat haji, beliau selalu puasa Arafah. Menurut redaksi riwayat Muslim disebutkan: “Puasa Arafah menghapuskan dosa tahun lalu dan yang akan datang.” Puasa Arafah ini hanya dikerjakan oleh mereka yang tidak berhaji. Adapun yang sedang berhaji dan berada di padang Arafah hari itu, maka ia tidak boleh berpuasa. Karena Rasulullah SAW melarang mereka yang sedang di Arafah mengerjakan puasa Arafah. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata: “Rasulullah SAW melarang puasa hari Arafah di padang Arafah."(HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Dan, beliau sendiri meminum segelas susu di atas kendaraannya ketika sedang wukuf di padang Arafah, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadist shahih. Dengan kata lain, beliau tidak puasa Arafah ketika berada di Arafah. Perlu di ketahui tanggal 9 Dzulhijjah mempunyai makna dan nilai yang sangat tinggi. Hari itu adalah hari yang paling mulia dalam setahun, dan paling mudah Allah mengabulkan doa. Seperti diriwayatkan Abu Darda r.a, bahwa ia berkata:"Hendaklah kamu selalu berpuasa, memperbanyak doa, zikir, dan bersedekah pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah". Sebab Rasulullah SAW, bersabda: "Celaka orang yang tidak mendapatkan kebaikan hari-hari sepuluh, terutama hendaknya kamu berpuasa pada hari kesembilan karena didalamnya ada kebaikan yang lebih banyak daripada yang dihitung (diperkirakan) oleh orang-orang yang suka menghitung-hitungnya.” Jadi, sekiranya kita tidak sedang berada melaksanakan ibadah haji dan berada di tempat tinggal, hendaknya kita berpuasa pada hari Arafah ini. Karena hal ini adalah sunnah dan memiliki keutamaan yang besar sekali. Bahkan di antara puasa-puasa sunnah dianjurkan, puasa Arafah inilah yang paling besar pahalanya, yakni dihapuskannya dosa kita selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang. (l60 Kebiasaan Nabi SAW) |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 15 Desember 2008 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
