Drs.H.Mudjtahidin, SH, MH

Drs.H.Mudjtahidin, SH, MH
KPTA Kep. Bangka Belitung

Pilih Bahasa

English Arabic Japanese Indonesian

Info Pengadaan

Pedoman Perilaku Hakim

Pedoman Perilaku Hakim

Info Perkara

     MAHKAMAH AGUNG RI
     PTA BABEL
     PA PANGKALPINANG
     PA SUNGAILIAT
     PA TANJUNGPANDAN

Form Login






Kata Sandi hilang?

Pengunjung Online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini58
mod_vvisit_counterKemarin245
mod_vvisit_counterMinggu ini936
mod_vvisit_counterBulan ini7116
mod_vvisit_counterTotal458309

Sindikasi

Visi Pengadilan Tinggi Agama Kep.Bangka Belitung : Terwujudnya Pengadilan Tinggi Agama Kep.Babel yang Agung. Misi :(1).Meningkatkan Kemandirian Pengadilan Tinggi Agama Kep.Babel (2).Meningkatkan Pelayanan Hukum kepada Masyarakat Provinsi Kep.Babel (3).Meningkatkan kualitas kepemimpinan Pengadilan Tinggi Agama Kep.Babel (4).Meningkatkan kredibilitas dan akuntabilias Pengadilan Tinggi Agama Kep.Babel

Anda disini:  Beranda

Perpisahan Direktur Pembinaan Tenaga Teknis PA PDF Cetak E-mail
Dimuat Oleh TIM IT   
Selasa, 01 Pebruari 2011

Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama Purnabhakti


Pak Zuffran menerima peluk dan salam perpisahan dari Dirjen Badilag Wahyu Widiana.

Jakarta l badilag.net

Drs. H. M. Zuffran Sabrie, MH akhirnya memasuki masa purnabhakti. Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama Ditjen Badilag ini dilepas dalam sebuah acara perpisahan di Ruang Serba Guna, Gedung Sekretariat Mahkamah Agung, Jalan Ahmad Yani kavling 58, Jakarta, Senin (31/1/2011).

“Pak Zuffran pensiun terhitung sejak 1 Februari 2011. Beliau mengabdi selama 31 tahun 11 bulan,” tutur Sekretaris Ditjen Badilag, Farid Ismail, saat menyampaikan kesan dan pesan.

Pak Zuffran—demikian Direktur ini biasa disapa—lahir pada tahun 1951 ini. Sebagai pejabat eselon II di Badilag, dia membawahi Subdit Mutasi dan Promosi Hakim, Subdit Mutasi dan Promosi Panitera dan Jurusita, Subdit Pengembangan Tenaga Teknis serta Subdit Data dan Evaluasi. Usia pensiunnya adalah 60 tahun.

Alumnus Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjadi PNS pada 1979 di Departemen Agama. Selama 2,5 tahun sejak 1977, pejabat yang lahir di Sibolga, Sumatera Utara, ini menjadi calon pegawai.

Awal karirnya dimulai di Pengadilan Agama Buntok, Kalimantan Tengah. Tidak lama di sana, Pak Zuffran kemudian ditugaskan di Subdit Bina Sarana Direktorat Pembinaan Peradilan Agama (Dirbinpera).

Pak Zuffran terus berada di Direktorat tersebut hingga menjadi pejabat eselon III pada tahun 2002, yaitu menjadi Kepala Subdit Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama. Ketika terjadi penyatuatapan peradilan agama dari Depag ke Mahkamah Agung pada 2004, dan Ditbinpera yang setingkat eselon II berubah menjadi Ditjen Badilag yang setingkat eselon I, Pak Zuffran pun menjadi pejabat eselon II, yaitu Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama.

“Bukan main, beliau adalah pejabat yang tabah, walau menghadapi banyak masalah. Karena itu mari kita berdoa semoga beliau selamat fiddunya wal akhirah,” kata Farid Ismail.

Bersamaan dengan pelepasan Pak Zuffran, Ditjen Badilag juga melepas empat pejabat lain. Mereka adalah H. Dimyati Rusli, SH, Hj. Kamisnar, BA, Tri Hermintadi, SH dan Yuswar Sukin, SH, MH.

Empat budaya yang mengesankan

Di hadapan hampir seluruh pejabat dan karyawan Badilag, Pak Zuffran menyampaikan kesan dan pesannya. Berdasarkan catatannya, ada empat budaya yang dimiliki Badilag sejak bernama Ditbinpera.

“Pertama adalah budaya ikhlas. Dengan keikhlasan ini kita mampu hidup di instansi ini dengan baik,” tuturnya. Budaya ikhlas ini memang tertanam kuat sejak Badilag berada di bawah Depag. Apalagi, motto kementerian tersebut hingga sekarang ialah “Ikhlas Beramal”.


Pak Zuffran menyampaikan kesan dan pesannya. Di sebelah kanan ialah para pejabat yang juga dilepas oleh Ditjen Badilag setelah mengabdikan sebagian besar usianya untuk peradilan agama.

Kedua, budaya kerja keras. Menurut Pak Zuffran, Ditjen Badilag mengemban tugas yang tidak ringan. Dengan personil 137 orang, Badilag harus membina 343 Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iah dan 29 Pengadilan Tinggi Agama/Mahkamah Syar’iah Propinsi. Jumlah pegawai yang harus dibina lebih dari sebelas ribu. Nyatanya, Badilag mampu mengemban tugas itu.

“Tanpa kerja keras, pembinaan tidak akan berjalan dengan baik,” tandasnya.

Ketiga, budaya hemat. Pak Zuffran menegaskan, anggaran yang kecil akan tetap efektif bila dikelola secara hemat. Dia mencatat, walau dengan anggaran yang tidak terlalu besar, Badilag sukses melaksanakan tugas yang diberikan negara.

“Yang keempat adalah budaya solid atau kompak,” kata Pak Zuffran. Sepengatahuannya, di Badilag tidak pernah terjadi persaingan, apalagi persaingan tidak sehat. Hal ini harus terus dipertahankan di masa depan.

Munculnya empat budaya unggul tadi bukan tanpa sebab. Menurut Pak Zuffran, hal itu bisa terjadi karena Badilag dipimpin oleh seorang Dirjen yang baik. “Gagasan-gagasan beliau selalu baru, segar, sehingga mendapat pengakuan dari berbagai pihak,” tuturnya.

Namun Dirjen bisa seperti itu juga ada sebabnya. Yaitu karena mendapat dukungan yang penuh dari istri. “Karena itu pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan selamat kepada Bapak dan Ibu Dirjen,” ujar Pak Zuffran.

Satu hal yang berkesan dari Dirjen Badilag Wahyu Widiana di mata Pak Zuffran ialah sikap Dirjen yang tidak pernah menyalahkan anak buahnya di luar walaupun anak buahnya salah. Ibarat seorang komandan dalam dunia militer, Dirjen berusaha melindungi para prajuritnya, sebab kesalahan prajurit sebenarnya adalah kesalahan komandan. “Dan beginilah seharusnya pimpinan yang baik,” tandasnya.

Pak Zuffran menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Dirjen dan para pejabat eselon II atas kepercayaan yang diberikan. “Selamat bekerja dan berjuang,” tuturnya.

Selama menjadi salah satu pejabat teras di Badilag, Pak Zuffran sadar betul dirinya tak pernah luput dari salah dan khilaf. “Dari lubuk hati yang terdalam mohon dimaafkan sedalam-dalamnya,” pintanya, baik kepada atasan maupun bawahan.

Kehilangan salah satu teladan

Purnabhaktinya Pak Zuffran menumbuhkan perasaan tersendiri. “Kita betul-betul merasa kehilangan salah satu teladan kita,” kata Dirjen Badilag Wahyu Widiana. “Karena itu, atas nama seluruh keluarga besar Badilag serta atas nama pribadi, kami sampaikan selamat jalan kepada kawan-kawan dengan iringan doa semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.”

Pak Zuffran bersama para rekan kerja yang ditinggalkannya. Kepada generasi penerusnya, Pak Zuffran berpesan agar empat budaya unggul di Badilag tetap lestari.

Dirjen juga menyampaikan terima kasih atas pengabdian dan kebaikan-kebaikan yang ditinggalkan Pak Zuffran. Dirjen berharap agar silaturrahmi tetap terjalin walaupun secara formal Pak Zuffran sudah pensiun. “Mohon kesediaan untuk menyisihkan waktu untuk memberi masukan-masukan kepada kami, khususnya kepada yang masih muda,” tutur Dirjen.

Keberhasilan Badilag, masih menurut Dirjen, bukanlah keberhasilan pribadi. Itu adalah keberhasilan seluruh pejabat dan karyawan Badilag. “Empat budaya yang disebut Pak Zuffran itu sama artinya dengan berhati ikhlas, bekerja keras dan berpikir cerdas. Dan budaya-budaya tersebut harus terus dikembangkan,” ungkapnya.

Di penghujung acara, Pak Zuffran dan empat pejabat lain menerima cinderamata dan ucapan selamat dari seluruh pejabat dan karyawan Badilag yang menghadiri acara ini. Saat bersalam-salaman, beberapa orang tampak tak kuasa membendung air matanya.

Pemutakhiran Terakhir ( Selasa, 01 Pebruari 2011 )
 

Add comment


Security code
Refresh

< Sebelumnya   Berikutnya >