
| Beranda |
| Selamat Datang |
| Sejarah PTA Kep. Bangka Belitung |
| Yurisdiksi |
| Struktur Organisasi |
| Visi dan Misi |
| Rencana Strategis |
| Surat Dinas |
| Artikel dan Makalah |
| Peraturan Perundang-Undangan |
| Buku Tamu |
| Link |
| Informasi Perkara PTA dan PA se-Babel |
| Statistik Perkara |
| Prosedur Berperkara |
| Perkara Putusan |
| Bagian Kepaniteraan |
| Bagian Kepegawaian |
| Bagian Keuangan |
| Bagian Umum |
| Pedoman Perilaku Hakim |
| Profil Pegawai |
| Job Description |
| Daftar Pengawasan |
| LHKPN |
| Alur Pengaduan |
| Prosedur Pengaduan |
| Pengaduan Online |
| Hak-Hak Pencari Keadilan |
| Hak-Hak Pelapor |
| Biaya Berperkara |
| Transparansi Anggaran |
| Barang Milik Negara |
| Rencana Umum Pengadaan |
| PA Pangkalpinang |
| PA Sungailiat |
| PA Tanjungpandan |
| PA Muntok |
Artikel dan Makalah
Artikel Hukum
Problema Hukum Waria dan Operasi Kelamin | Problema Hukum Waria dan Operasi Kelamin |
|
|
|
| Dimuat Oleh Drs. H. Dja'far Abd. Muchith, SH., M.HI. | |
| Selasa, 21 Oktober 2008 | |
ARTIKEL :PROBLEMA HUKUM WARIA (KHUNTSA) DAN OPERASI KELAMIN
Pangkalpinang l pta-babel.net
Menurut ayat diatas dan ayat-ayat lainnya, Allah yang telah menciptakan manusia lelaki dan perempuan berikut kelengkapan dan tanda-tandanya sebagai lelaki atau perempuan. Namun sejarah mencatat dan fakta berbicara bahwa ternyata ada sekelompok orang yang sangat kecil jumlahnya-mungkin sejuta satu karena dalam statistik belum pernah diinformasikan berapa jumlah kelompok orang tersebut. Berbeda dengan jumlah lelaki atau perempuan yang sering diinformasikan, dimana jumlah lelaki 43% dari jumlah penduduk Indonesia dan jumlah kaum perempuan 57%.
Mereka itu adalah makhluk Allah yang disebut khuntsa (Waria). Mereka sepertinya belum mendapatkan perhatian dan seperti dibiarkan hidup pada habitatnya mencari dan berjuang mempertahankan hidup menurut maunya. Mereka seperti belum tersentuh hukum, tapi mereka terkadang dicari bila dibutuhkan atau diperlukan untuk suatu kepertingan atau tujuan sesaat.
Berbagai Al Quran dan Hadits Rasul telah banyak menjelaskan aturan hukum yang berkaitan dengan lelaki dan perempua, tapi tidak menjelaskan suatu hukumpun yang berkaitan dengan waria (khuntsa). Hal ini menunjukkan ketidak mungkinan adanya 2 (dua) alat yang berlawanan dan berkumpul pada seseorang. Untuk itu harus ada ketentuan status hukumnya lelaki atau perempuan. Mengingat semakin semarak dan pesatnya perkembangan waria seperti sekarang ini dan untuk menghindari ekses negatif, kiranya perlu penelitian khusus mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan khuntsa termasuk aturan hukum dan solusinya. Contoh kongkrit seperti yang ditayangkan. Televisi swasta dibulan suci Ramadhan, ada sebagian waria sholat Tarawih dengan memilih pakaian lelaki dan sebagian yang lain memilih busana muslimat. Ini menunjukkan bahwa waria ingin mencari jati dirinya lelaki atau perempuan.
Untuk membaca artikel diatas lebih lanjut, silahkan klik disini. |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Jumat, 31 Oktober 2008 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

| Rakerda Tahun 2012 |